Hukum Demo Makar Penguasa Adil maupun Dzolim Dalam Islam,Hukum Mendoakan Pemimpin dan Memperbaiki Umat Untuk Memperbaiki Kondisi Negri

Kenapa sih yang bermanhaj salaf,bermadzhab hambali,hanafi dan maliki bahkan madzhab syafi’i yang dibawakan imam Ahmad(murid imam syafi’i) itu tidak berdemo?

1.Pertama) Kenapa kami tidak berdemo?karena kami mengikuti Al Qur’an dan Sunnah

Yaitu Allah telah memberi contoh tentang (menghadapi penguasa) semisal fir’aun pemimpin paling dzolim,kafir dan mengaku Tuhan lagi,Juga pasti tidak mungkin menerapkan sistem negara islam

Allah SWT berfirman:

فَا لْيَوْمَ نُـنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗ وَاِ نَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّا سِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu (fir’aun) agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”
(QS. Yunus 10: Ayat 92)

Lihat ayat diatas Allah menyelamatkan jasad fir’aun (awet sampai saat ini) untuk menjadikan peringatan dan pelajaran bagi kita,juga lihat dalam surat diatas,Allah berfirman “untuk pelajaran bagi orang orang setelahmu(fir’aun)”.Siapakah orang orang setelah fir’aun?ya orang orang yang hidup setelah jaman fir’aun sampai kiamat(termasuk kita semua),Karena AlQur’an pedoman sepanjang masa.Lalu pertanyaannya apakah pada waktu itu Allah memerintahkan nabi musa berdemo,memberontak semisalnya?Jawabannya tidak,Allah memerintahkan dengan menasehatinya dengan lembut..
Perhatikan firman Allah berikut.

Allah SWT berfirman:

اِذْهَبَاۤ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى ۚ

“pergilah kamu berdua (musa dan harun) kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas;”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 43)

Allah SWT berfirman:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 44)

Dalam surah Yunus Allah telah meminta kita belajar dari kejadian fir’aun (penguasa dzolim),dan dalam surah ta ha Allah mengajari kita bahwa menghadapi pemimpin dzolim tetap dengan kelembutan.Hal ini diperkuat oleh hadist nabi,lihat berikut

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim dan yang lain, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no. 1096—1098, lihat pula takhrijnya dalam kitab Mu’amalatul Hukkam, hlm. 143—151)

Dari hadist diatas Rosululloh melarang kita menasehati penguasa dengan terang terangan,sedangkan demo dilakukan secara terang terangan,juga bisa diartikan melarang kita menasehati/kritik via medsos,karena medsos termasuk perkara yang terang terangan.Yang artinya tindakan itu berlawanan dengan perintah nabi.Pantaskah kita disebut (muslim) pengikut rosululloh jika kita ingkar hukumnya (larangan dan perintah)

Jika Allah dan rosulnya sudah memberi cara melalui Qur’an dan Sunnah,mengapa kita mencari cara lain??Apakah kalian golongan yang mengingkari kebenaran Al Qur’an dan Sunnah?Jika seperti itu pantaskah kita menamakan diri kita muslim?

Nabi Musa saja yang utusan Allah,yang surganya sudah dijamin aja tetap diperintahkan menasehati penguasa yang super dzolim,kafir,tidak menerapkan hukum islam itu tetap dengan cara ma’ruf,lha masak kita manusia biasa,bukan nabi,dosanya banyak dan surganya juga belum jelas, malah menasehati penguasa dengan berlebihan,teriak teriak dijalan,lempar lempar batu,dzolim kebanyak orang dikarenakan demo menyebabkan jalan jalan ditutup,Apakah kita lebih Nabi daripada Nabi??

JIKA MERASA TERLALU PANJANG,SILAHKAN TARIK KEBAWAH UNTUK MELIHAT KESIMPULANNYA SAJA

Banyak orang menilai kami yang tidak berdemo itu antek pemerintah,padahal tidak!!!selain berdoa kami juga punya tindakan,semisal membantu dengan zakat,infaq,dakwah dsb.Karena sulit juga pemerintah menjangkau menyelesaikan masalah umat.Memang tidak seberapa usaha kami, tapi itu lebih baik dan adil daripada cuma menuntut,mencaci,nyinyir dan menyalahkan pemimpin saja atau berdemo tanpa ada kontribusi ke rakyat

2.Kedua) Kenapa kami tidak demo,karena Rosululloh dalam banyak hadist meminta kita taat kepada penguasa,walau penguasa itu dzolim dan bodoh sekalipun, bahkan jika ia menjadi penguasa dengan cara tidak syar ‘i atau tidak menerapkan hukum syar’i sekalipun (semisal cara demokrasi),selama masih mengijinkan kita sholat tidak boleh memberontak!!,dan menurut kami berdemo menandakan kita keluar dari sunnah yaitu tidak taat kepada pemimpin.

Berikut dibawah ini hadist hadist untuk taat kepada penguasa

A.Hadist tentang taat kepada penguasa,walau terpilihnya tidak sesuai syar’i

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ آمَرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ…

“…Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam…(HR. Ahmad (IV/126,127, Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205) dan al-Hakim (I/95-96))

Bukankah budak tidak bisa menjadi penguasa secara islam?karena bukan hamba merdeka?tapi jika itu terjadi Rosululloh tetap minta kita taat.Termasuk menjadi penguasa dengan cara demokrasi maupun cara non syar’i lainnya,tetap harus ditaati

B.Hadist tentang wajib taat kepenguasa walau dia zholim bahkan sampai dititik berhati setan pun atau tidak menerapkan hukum islam (semisal sunnah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ ». قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ « تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ ».

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal/hukum, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.

“Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu(dzalim). Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.”

(HR. Muslim no. 1847. Lihat penjelasan hadits ini dalam Muroqotul Mafatih Syarh Misykah Al Mashobih, 15/343, Maktabah Syamilah)

*Bukan berarti taat itu menjalankan semua perintah penguasa,jika perintah penguasa itu kemunkaran dan menyelisihi Allah dan Rosulnya maka kita boleh menolaknya,namun bukan berarti dengan melawannya atau mendemonya

Loh kan kita negara demokrasi bukan negara islam?Penguasa mengijinkan itu melalui UU?

Benar,Penguasa mengijinkan itu.Tapi perlu diingat Hukum Allah dan Rosulnya Lebih Tinggi,semisal negeri ini masih melegalkam minuman beralkohol dan Riba,bukan berarti alkohol dan riba itu menjadi halal.Sama halnya seperti demo,meski UU negara ini membolehkan bukan berarti menjadi halal

Tapi kan ada Hadist dari Abu daud,bahwasanya jihad yang paling utama mengutarakan perkataan yang yang haq didepan penguasa?

Benar sekali hadist tersebut,namun pahami lagi hadist ini dan kaitannya dengan demo.Pertama,demo adalah cara penyampaiannya perkataan yang haq tadi.Benar sekali menyampaikan perkataan yang haq (nasihat) adalah jihad namun caranya yang salah.Lihat Hadist riwayat Ahmad diatas untuk caranya menyampaikan seperti apa.Karena yang dimaksud jihad disini adalah menyampaikan sedangkan yang diharamkan adalah cara menyampaikannya (demo).

Kedua,perhatikan dihadist tersebut,bisa dikatakan jihad jika menyampaikan perkataan haq dihadapan penguasa,sedangkan demo menyampaikan perkataan yang haq tidak didepan penguasa secara langsung.

Jika Rosululloh meminta kita untuk taat,kenapa kita malah membangkang?Kalau mau disebut (muslim) pengikut Nabi muhammad ya ikuti seruannya!!!

3.Ketiga) Kenapa kami tidak demo?karena demo yang diindonesia itu kebanyakan berujung merusak dan anarkis.Tidak semua tapi hampir semua seperti itu.
Padahal Allah memerintahkan kita tidak boleh melakukan perusakan!!!

Allah berfirman,

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ}

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS al-Baqarah:11-12).

Dan janganlah kita menjadi orang orang yang merusak,walau tidak merusak tapi kita ikut andil dalam kejadian itu,karena ikut demo didalamnya.

4.Keempat) Kenapa kami tidak berdemo?karena demo itu tindakan dzolim,selain ke penguasa juga dzolim ke orang lain pengguna jalan.Setiap Demo turun kejalan,padahal jalan milik bersama?semisal dalam waktu demo itu biasanya ada 1000 orang lewat jalan itu, maka kita telah dzolim kepada 1000 orang itu.Ingatlah jalan itu banyak fungsinya semisal orang mencari rezeki seperti ojek,kurir dll,ada juga sebagai sarana menuju ke suatu tempat,semisal untuk dilalui ambulan dan akhirnya harus memutar arah.Padahal ada pasien didalamnya.Dan lagi kebanyakan demo itu diarea kantor pemerintahan,padahal dikomplek kantor pemerintahan itu banyak juga kantor kantor pelayanan publik.Jika ada demo otomatis kita mendzolimi orang orang yang punya kepentingan,semisal ada yang mau mengurus administrasi dikantor.

Artinya dengan berdemo kita telah dzalim karena menghalangi aktifitas dijalan (tempat kita demo),baik bagi mereka yang mencari nafkah dijalan maupun sekedar bepergian melalui jalan tersebut

Dan perlu diketahui pemimpin bisa dzalim ke rakyat,kita pun bisa dzalim ke penguasa dengan merendahkannya atau menggunjingnya disaat demo.Ingatlah ketika kita mengolok olok orang lain (termasuk kepada penguasa) adalah pebuatan dzalim.Lihatlah fiman Allah berikut:

Allah berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّنْ نِّسَآءٍ عَسٰۤى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۚ وَلَا تَلْمِزُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ بِئْسَ الِا سْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِ يْمَا نِ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)

Dan ingatlah setiap orang yang dzalim akan diberi azab (bencana).

Allah SWT berfirman:

يُّدْخِلُ مَنْ يَّشَآءُ فِيْ رَحْمَتِهٖ ۗ وَا لظّٰلِمِيْنَ اَعَدَّ لَهُمْ عَذَا بًا اَلِيْمًا

“Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Adapun bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 31)

Jadi berdemo itu kita telah melakukan dua kedzalimian,yaitu dzalim ke penguasa dengan mencaci serta mengolok oloknya atau merusak fasilitas umum dan dzalim ke orang orang yang biasanya beraktifitas dijalan tersebut

5.Kelima) Kenapa kami tidak demo?karena kebanyakan demo itu ghibah dan mencaci penguasa.Padahal ghibah dan mencaci itu dosa besar.

A.Berikut hadist terkait pengertian ghibah,sekalipun itu nyata terjadi jika tidak disukai penguasa maka kita telah menggibahnya

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ ». قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ». قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِى أَخِى مَا أَقُولُ قَالَ « إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ »

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.”
Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?”
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.”
(HR. Muslim no. 2589).

B.dosa ghibah itu seperti memakan daging bangkai saudaramu,banyak orang demo itu menggunjing dan mencari kesalahan kesalahan penguasa

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّا بٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

C.Akibat ghibah dan mencaci maki lainnya adalah berpindahnya pahala kita kepada orang yang kita caci/ghibahi,dan jika pahala habis dosa mereka berpindah menjadi dosa kita.Jangan sampai dia yang dzolim kita yang masuk neraka.
Berikut hadistnya

Rosululloh bersabda

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?”

Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.”

Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim).

D.Orang yang ghibah itu seperti dosa riba

Rosululloh bersabda
Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar (dalam riwayat lain: termasuk dari sebesar besarnya dosa besar) adalah memperpanjang dalam membeberkan aib saudaranya muslim tanpa alasan yang benar.”
(H.R. Abu Dawud no. 4866-4967)

Benang merahnya adalah

Demo=ghibah/mecari cari kesalahan bahkan sampai mengeluarkan kata kata buruk,membuka aib,mencaci dan memanggil dengan sebutan yang buruk.
Dosanya seperti memakan riba ditambah seperti memakan bangkai saudaramu,masih ditambah pahala kita dipindahkan ke yang dighibahi,dan jika habis kita menanggung dosanya

Bukankah lebih baik tidak demo dan mendoakan?demo banyak mudhorotnya daripada manfaatnya…bukankah Allah maha kuasa?atau kamu tak percaya dengan kuasa Allah?bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah?lantas mengapa kita enggan mendoakan agar penguasa kita diberi hikmah???

Ingatlah teriak teriak dijalan,mencaci maki,menyinyir itu bukan ciri seorang mukmin.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam
bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Dan ingatlah pesan Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
لو أني أعلم أن لي دعوة مستجابة لصرفتها للسلطان

“Seandainya aku tahu bahwa aku memiliki doa yang mustajab (yang dikabulkan), maka aku akan gunakan untuk mendoakan penguasa.”

Kenapa malah mendoakan pemimpin dzolim?karena jika Allah merubahnya menjadi baik,maka Allah juga memberi kebaikan seluruh negri dan pahala yang kita dapat akan sebanyak orang dalam negri itu.

Saya sendiri beserta manhaj salaf,madzhab maliki dan hanafi juga berupaya menegakkan khilafah (bukan berarti anti pancasila kayak yang itu ya 😊) tapi bukan cuma diindonesia,kalau cuma diindonesia tak jauh beda dengan isis yang mengklaim iraq dan suriah saja.

Kami menegakkan khilafah dengan cara salaf,yaitu dengan mengajak kepada kebaikan.Jangankan mau negri dengan sistem islam, kalau masyarakatnya saja dengan akidah masih alergi?sholat saja masih pada berling (kober nek eling=sesempatnya dan kalau ingat)?

6.enam)Mengapa kami lebih memilih dakwah daripada demo?Karena sebuah negri atau pemimpin itu tergantung rakyatnya (penduduk),

Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَا نٍ فَكَفَرَتْ بِاَ نْعُمِ اللّٰهِ فَاَ ذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَا سَ الْجُـوْعِ وَا لْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 112)

Juga Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Juga seperti kisah khalifah ‘Ali yang juga menantu dan sahabat nabi,yang juga khalafaur rasyidin yang kesholihannya tak diragukan lagi bahkan dijamin masuk surga oleh Allah.
Seperti saat ‘Ali ditanyai rakyatnya,
Rakyat datang ke ‘Ali :Ya amir mengapa negri saat ini tidak semudah saat Abu bakr dan umar memimpin?
‘Ali pun menjawab :karena dimasa mereka rakyatnya seperti saya dan ustman,sedangkan dijamanku seperti dirimu

-Riwayat ini di tulis dalam kitab sirajul muluk karya abu bakar athurthusyisy-

Ulama salaf
Ibnu Qoyyim jauziyah Rahimulloh berkata
Diantara hikmah Allah memilih raja/penguasa dan pelindung umat adalah sama dengan amalan rakyatnya.Jika rakyatnya baik maka mereka akan mendapatkan pemimpin yang baik,dan jika rakyatnya suka berbuat dzolim maka mereka juga mendapat pemimpin dzolim

-Dalam kitab Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178-

Juga ketika Rosululloh membuat negara madinah,apakah nabi setelah hijrah ke madinah langsung mendirikan negara?apakah langsung menerapkan sistem khilafah?tentu tidak,beliau memperbaiki iman rakyat madinah terlebih dahulu,mengajari mana yang hak dan mana yang batil terlebih dahulu.

Sebagai penutup ada hadist yang menurut saya menjadi motivasi,sebagai berikut:

Rosululloh bersabda

“Barangsiapa mempermudah urusan orang,maka Allah akan mempermudah urusannya didunia dan diakhirat.Dan barang siapa menutup aib seseorang,maka Allah akan menutup aibnya dihari kiamat.Dan Allah senantiasa menolong hambanya selama dia menolong sesamanya.”
(HR Muslim,Abu Daud,Dan Ibnu majah)

Ketika demo itu kiranya mempermudah urusan orang lain atau mempersulit?kira kira banyak jalan yang ditutup (akibat demo) itu membuat kesulitan umat atau mempermudah??ketika demo lisan itu lebih banyak membuka aib atau menyembunyikan aib?Bagaimana Allah menolong kita atau negri kita, jika cara kita saja salah???

Bukankah Allah berfiman dalam Al Qur’an surah Muhammad ayat7-9,

“Bahwa Allah akan menolong dan memberikan kedudukan bagi siapa yang menolong Agama Allah.”

Kira kira menolong Agama Allah itu dengan demo atau mengajak sholat dan kebaikan meninggalkan syirik?tentu mengajak pada kebaikan,sholat dan menjauhkan syirik.Bukankah pokok agama dan tiangnya agama adalah sholat?kemarin demo mahasiswa adzan ashar gak sholat,adzan maghrib dan isya juga gak sholat,cuma berhenti orasi dengerin adzan lewat lalu orasi lagi.berikut dalil pentingnya sholat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Ingat jangankan negara berhukum agama,yang pokok agama (sholat) aja ditanggalkan

Maka sebaiknya kita perbaiki ummat maka pertolongan Allah itu akan datang,Allah yang janji bahwa khilafah atau bisa diartikan kemakmuran negri akan datang ketika orang orang kembali sholat…

bahkan seorang yahudi berkata islam tidak akan kembali kuat (menang melawan yahudi (israel)) jika sholat shubuh dimasjid tak sebanyak sholat jum’at.

Jika pernah dengar cerita perang salib disana salahuddin al ayyubi dalam merebut kembali palestina,dia berkata kepada pasukan salib :tidaklah gentar kami selama pasukanku masih sholat,dan aku melihat kemenangan muslimin karena itu.(cerita yang ditulis berdasarkan sejarawan muslim dan sejarawan kristen,dari dua sejarawan itu menemukan kalimat yang sama)

Kesimpulan (Penting):

Demo haram karena
1.Menyelisi ayat Al Qur’an dan Sunnah (semisal kita diminta belajar dari kejadian fir’aun (Qs Yunus 92),dan diminta mencontoh nabi musa dalam menghadapi penguasa dzolim (fir’aun) dengan lembut ( Qs Ta ha 43-44).Serta perintah Rosululloh untuk menasehati penguasa dengan tidak terang terangan,sedangkan demo nasihat terang terangan lagi kasar (lihat HR Imam Ahmad,yang dishohihkan syech Al Albani dalam zhilalul jannah 1096-1098))

2.Jikapun Demo boleh,Medhorot lebih besar dari manfaatnya,
Jika manfaatnya adalah menyampaikan aspirasi dan menasehati penguasa,maka mudhorotnya berkali kali lebih besar dari itu.

“Maka seorang muslim wajib meninggalkan hal hal yang mudhorotnya lebih besar dari manfaatnya.”

Berikut mudhorot demo:

Pertama,Mudhorot demo itu beresiko kehilangan pahala dan bertambahnya dosa/menumpuk dosa orang lain,ditambah mendapat dosa dari aktifitas demo itu sendiri,masih ditambah lagi mendapat dosa seperti melakukan riba juga ditambah memakan bangkai saudaramu.

Saya bisa mengatakan hampir 90% orang berdemo kepada penguasa pasti mengeluarkan perkataan yang buruk,semisal yel yel dengan menghina,spanduk spanduk dengan tulisan menghina,juga membuka aib (kesalahan kesalahan penguasa),bahkan ada yang mengolok olok penguasa,mencaci makinya dll.

Dan Hal ini dilarang bahkan berdosa besar

Dosanya seperti makan bangkai saudaramu,(Lihat Firman Allah dalam Qs Al Hujuraat 11 dan 12) dan sabda nabi soal dosa ghibah seperti riba (HR Abu Daud 4866/4967),ditambah hasil dari ghibah dan mencaci adalah kerugian besar karena berpindahnya pahala baikmu kepada orang yang kamu ghibahi,dan jika pahala habis maka dosa mereka menjadi dosamu,hingga akhirnya masuk neraka karena tak punya amal baik dan dosanya semakin bertambah (Lihat HR Muslim)

Kedua,Mudhorot demo bisa menjadikan kita orang dzalim dan mendapat dosa dari kedzaliman tersebut,siapa saja yang mendapat kedzaliman kita,berikut

A.Dzalim pengguna jalan,dimana banyak aktifitas yang biasa menggunakan jalan terganggu karena jalan yang biasa mereka gunakan dijadikan tempat untuk demo.Pengguna jalan itu tidak cuma 1 atau 2 tapi ratusan bahkan ribuan orang,baik sekedar menggunakan jalan sebagai sarana menuju ke suatu tempat atau mereka yang menggunakan jalan sebagai tempat mencari nafkah,semisal ojek angkutan dan kurir

B.Dzalim kepada pengguna fasilitas non jalan,semisal demo diarea perkantoran pemerintah atau juga sampai merusak fasilitas fasilitas umum maupun pribadi (saat anarkis).Disitu pasti banyak juga kantor kantor pelayanan publik,otomatis jika demo akan mengganggu mereka mereka yang sedang mengurus ini itu dan akibat fasilitas yang rusak akibat demo anarkis itu,maka pendemo telah dzalim kepada mereka yang biasa memakai fasilitas tersebut.

*pengertian zalim:Zalim (Arab: ظلم, Dzholim) dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya.Atau segala sesuatu yang mengakibatkan kerugian terhadap diri sendiri maupun orang lain,baik secara materi(harta/rezeki),waktu atau non materi (semisal luka fisik,batin,psikis)

C.Dzalim ke penguasa,yaitu dengan mengolok oloknya,mencacinya,meremehkannya,menggunjingnya dan mencari kesalahan kesalahannya bahkan menfitnahnya (lihat Al Qur’an surah 11 dan 12)

-Artinya pendemo dzalim ke banyak orang,seperti dzalim pengguna jalan,penguasa dan dzalim kepada mereka yang punya kepentingan di fasilitas yang digunakan demo-

Ketiga,Mudhorot demo beresiko berkumpulnya antara pria dan wanita,bersentuhan dengan yang bukan muhrim dan melihat aurat bukan mahromnya.

-Rosululloh melarang pria dan wanita berkerumun(iktilath) dalam satu barisan (shaf) (HR Muslim 440)

-Rosululloh melarang bersentuhan yang bukan mahromnya,dalam (HR At Thobroni) bahkan Rosululloh bersabda Kepala ditusuk dengan pasak besi lebih baik dari bersentuhan bukan mahromnya

-Allah melarang melihat aurat bukan mahromnya (Qs AnNur 30)

Keempat,mudhorot demo beresiko seseorang meninggalkan sholat.Hampir setiap melihat demo dimulai dari sebelum dzuhur sampai maghrib bahkan ricuh sampai malam.Dan diantara waktu berdemo itu banyak peserta yang melewatkan waktu untuk sholat.Padahal meninggalkan sholat salah satu dosa terbesar dari yang besar

-Allah akan memberikan balasan bagi yang menyia nyiakan shalat,yaitu masuk dalam sungai neraka jahannam (Al Ghoyya) (Qs Maryam 59-60)

-Rosululloh bersabda,”pembatas antara muslim dengan orang yang syirik dan kafir adalah meninggalkan sholat (HR muslim 257)

-Umar bin khotob berkata,” Tidak bisa disebut muslim kembali jika ia meninggalkan sholat (Kitab Irwa’ul Gholil no. 209,oleh syech Al Albani)

-Rosululloh bersabda bahwa hisab pertama kali kelak adalah sholat,jika sholatnya baik maka baik pula amalannya
[HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa’i, no. 466. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

-Rosululloh bersabda bahwa sholat adalah pokok agama (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973)

Akhir kesimpulan

-Demo haram karena Allah dan Rosulnya meminta kita menasehati penguasa dengan lemah lembut dan tidak terang terangan,sedangkan demo adalah nasihat yang kasar lagi terang terangan

-Demo haram karena mempunyai banyak mudhorotnya dari manfaatnya,semisal mendapat dosa ghibah,dosa berkerumun/bercampur pria dan wanita,bersentuhan dan melihat aurat bukan mahrom.Serta Mendapat dosa dzolim karena mengganggu aktifitas pengguna jalan dan Dosa meninggalkan sholat

Pertanyaan lalu bagaimana menasihati penguasa atau jika terjadi kemunkaran penguasa?

Rosululloh bersabda jika kalian melihat kemunkaran didepan kalian hendaklah kalian merubahnya dengan tangan (kekuasaan),jika tidak mampu dengan lisannya (nasihat),jika tidak mampu dengan lisan hendaklah dengan hatinya (berdo’a) (HR Muslim)

Maka solusinya hadist diatas,berikut rinciannya:

1.Memerintahnya (tentu tidak bisa,biasanya ini dari penguasa yang lebih tinggi ke penguasa dibawahnya atau bawahannya.Semisal Bupati kecamat atau bos ke pegawainya)

2.Menasehati (karena disyariatkan tidak boleh terang terangan,maka hendaklah dengan mengirim surat atau Dm medsosnya,Tentu belum tentu dibaca,tapi ini tak menimbulkan mudhorot seperti demo,yang belum tentu didengar juga),maka jika kedua itu terasa kurang maka gunakan wakil anda(bukankah dalam sila ke 4 pancasila adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan?belum lagi kalian ikut pemilu untuk pilih fulan dan si fulan untuk menjadi wakil anda (DPR),kalau mereka tak mewakilimu kenapa kemarin dipilih?selain dapat anda wakilkan ke dpr ,anda bisa juga meminta tokoh tokoh yang punya akses ke istana semisal ulama dan cendikiawan)

3.Jika poin satu dan dua tak mampu,maka hendaklah dengan hatinya berdoa kepada Allah yang maha kuasa,untuk merubah pemimpin kita menjadi lebih baik.Ingat Allah maha kuasa,tiada yang tidak mungkin BagiNYA dan jika engkau meragukan kuasaNYA maka diragukan keimanan kamu

4.Dan Solusi terbaik adalah memperbaiki diri kita sendiri dan Ummat ini,perbaiki ibadah kita,perbaiki akhlaq kita,perbaiki muamalah kita.

Karena Allah berfirman dalam Al Qur’an surah Ar rad ayat 13 Yaitu Allah tidak akan merubah kondisi suatu negri,jika kaum disuatu negri tidak merubah dirinya.

Juga Allah berfirman dalam Al Qur’an surah An Nahl ayat 112 Yaitu perumpaan dahulu sebuah negri yang aman lagi tentram dan rezeki melimpah ruah dari segala tempat,namun penduduknya mengingkari Allah.Maka Allah menimpakan bencana,kelaparan,dan ketakutan karena perbuatan mereka sendiri

Juga Allah berfirman,Allah berikan berkah yang melimpah,tergantung ketaqwaan penduduknya (lihat Qs Al A’raf 96)

Juga pesan dari menantu nabi,sahabat juga khalafaur rasyidin yang saat menjabat khilafah waktu itu,Dia berkata mengapa jaman Abu bakr dan Umar lebih baik?karena penduduknya sepertiku dan ustman,sedangkan dimasaku penduduknya seperti dirimu (kitab sirajul muluk)

Juga pesan wali Allah Ibnu Qoyyim Jauziah Rohimulloh berkata,diantara hikmah seperti apa raja,pemimpin dan pelindung ummat adalah seperti rakyatnya.Jika rakyatnya baik maka pemimpinnya akan baik dan bila rakyatnya dzolim maka mereka juga mendapat pemimpin dzolim (kitab Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)

-Artinya sebanyak apapun demo dan ganti rezim,jika rakyatnya tidak memperbaiki diri maka tidak akan ada perubahan untuk negri-
JIKA MERASA HASIL KESIMPULAN KURANG MEMUASKAN SILAHKAN BACA SELURUH ARTIKEL,UNTUK BISA LEBIH DETAIL MEMAHAMINYA

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai